RicinusCom
  • Home
  • Contact me

Disetiap kota khususnya kota besar seperti Surabaya pasti punya tempat jujukan untuk ngumpul atau sekedar having fun menikmati waktu luang bersama kerabat. Dan sepertinya tren seperti ini dimanfaatkan betul oleh para pelaku bisnis baik yang sudah lama berkecimpung maupun pemula untuk membuka usaha kedai kopi, cafe dan lain sebagainya. Jenis dan konsep mulai terasa beradu demi menarik pengunjung cafe, mulai dari konsep eksklusif sampai model konsep cafe hybrid. Konsep hybrid diusung guna menarik pelanggan kelas menengah, dengan harga menu sedikit lebih mahal daripada warung kopi tapi pelanggan dapat merasakan ngopi ala cafe.

Kebetulan sudah pagi menjelang siang dan belum sarapan, kondisi yang umum dirasakan para bujang dipertengahan bulan. Posisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau yang biasa disingkat ITS menuju ke Surabaya bagian selatan. Saya mengambil rute melewati Jl. Ir. Soekarno, jalan baru yang lurus aja bisa menghubungkan Surabaya bagian selatan, timur dan utara. Belak kanan di perempatan Kedung Baruk menuju Jl. Panjang Jiwo. Niat hati melewati jalur sibuk untuk mendapatkan sarapan alakadarnya, pokoknya kenyang. Mampirlah ke De'PANJI, mungkin ada snack atau apalah yang bisa buat ganjel weteng, secara ini perut sudah enggak nyantai lagi suaranya.

Masuk ke pelataran cafe terkesan susunan bangku dan mejanya sama dengan Cafe Rolag di kawasan Gunung Sari. Bangku besi yang dihiasi semacam kayu palet berkapasitas 4-6 orang dan lampu bohlam yang digantung, memberikan kesan simple dan sedikit industrial..opo model rumah lawas jaman dulu kan gitu bob..vintage ngono lah. Atau jangan-jangan memang dua cafe ini pemiliknya sama??

De'PANJI
Saya termasuk orang yang cerewet masalah parkir, meskipun pake motor kalo parkir aja susah dan kelihatan enggak aman atau bisa ganggu jalan orang lain aja sudah males balik lagi ketempat itu. Parkiran mobil di sisi sebelah kiri dan parkiran motor di kanan. Menurutku agak sempit ya, soalnya yang di Cafe Rolag itu aja sudah cukup lebar, kalau pas rame orang bisa pake parkiran jalan seberang. Sudah bagus sih tempat parkirnya rapi, gak ganggu jalannya orang dan ada jukirnya pake tiket. 
Tiket parkir buat mobil Rp3000,-

Menu ada di depan meja kasir, disitu langsung bisa order dan bayar langsung. Karena konsep yang masih cafe didalam benak saya terbayang menu yang diatas harga Rp20.000-an untuk minuman dan snack yang berkisar diharga Rp30.000an keatas, jadi saya putuskan untuk melihat menu minuman terlebih dahulu. 

Ternyata salah, Cappuccino Ice cuma Rp10.000,- trus sekalian aja order snack, ternyata ada menu nasi goreng yang cuma dibandrol Rp15.000,-. Masih dalam bayang-bayang cafe yang biasanya cuma kasih porsi macam berbi, pikirku ga ada salahnya skali-skali dicoba lagipula ini perut sudah ngomel. Jadi total order siang itu Rp25.000 dan doa mudah-mudahan bisa kenyang. Cafe ini tergolong menyenangkan karena memberikan menu makanan yang variatif, banyak pilihan seperti Chicken Cordon yang harganya sekitar 30ribuan.

Mohon maaf gak sempat saya foto pas menu orderan saya datang. Diluar ekspektasi saya tentang konsep cafe yang diusung, menurut saya nasi goreng ini enaknya macam Chinese Food dan dalam porsi yang cowok banget. Good! untuk nasgor yang enak dengan harga yang pantas.

========================================================================

Kegiatan cangkruk dilanjutkan hingga hari menuju senja. Jam pulang kantor bikin suasana De'PANJI makin riuh. Pegawai kantoran, sales dan pengangguran macam saya terus datang mengisi bangku-bangku panjang cafe. Dan..saya merasa kepanasan. Satu lagi kekurangan menurut saya, disini gak disediakan kipas angin atau apalah yang bisa bikin sepoy-sepoy. Enggak cuma dari saya, teman saya yang kebetulan ikut join sedari siang juga merasakan hal serupa..sumuk bos!

Review:
  • Konsep : 8.0/10
  • Parking Lot : 7.5/10
  • Makanan : 9.0/10
  • Suasana : 6.0/10 *sumuk/gerah
Untuk ente-ente dari luar kota yang berkunjung ke Surabaya untuk keperluan bisnis ato cuma jalan-jalan bisa dicoba mampir.

Alamat:
Jl. Panjang Jiwo No.44, Surabaya, Jawa Timur 60299
(sesudah SPBU Panjang Jiwo)
Buka pk.10.00AM - 02.AM


Dini hari waktu yang kami pilih untuk meninggalkan Surabaya menuju Pacitan. Destinasi wisata yang lagi heboh akhir-akhir ini. Tapi kali ini aku napak tilas perjalananku beberapa tahun yang lalu bersama keluargaku. Di 2013 aku menggunakan kuda besi kesayangan untuk berangkat dari Yogyakarta menuju Pacitan, dan di 2015 juga mengendarai kuda besi yang sama namun dengan peserta yang berbeda. Dua kali perjalananku ke Pacitan menggunakan faham "pokok'e budhal" yang bisa diartikan dalam bahasa Indonesia yakni "yang penting berangkat, soal duit dan dimana kita tidur itu masalah gampang", atau mungkin sama dengan faham rekan-rekan backpacker sedoyo?

Sebelumnya aku merasa sangsi atas perjalananku saat ini, disamping peserta yang berangkat ini adalah keluargaku sendiri yang sudah pasti tidak bisa disamakan dengan kebiasaan traveling ketika bersama teman-teman juga kita berangkat pas high-season. Aku pribadi jarang merekomendasikan teman-teman untuk berangkat traveling ketika high-season atau peak-season, dikarenakan..tau lah..pasti harga penginapan dan tiket transportasi akan semakin mahal dan juga keramaian yang tiada tara di destinasi tujuan. 
Bagi yang mau tau atau yang kepingin sok tau soal High-season atau Peak-season bisa cek disini bob!

tips umum:
Kalo sudah niat dan ada uang lebih mending pesen tiket transport jauh-jauh hari bos..untuk pembelian tiket dan booking hotel bisa di agen tiket atau mungkin teman kalian ada yang nyambi/kerja di ticketing? itu sangat bisa diandalkan. Kalau ga ada kenalan agen tiket aku merekomendasikan T*aveloka.com buat hunting tiket + penginapan.

Tapi nggak berlaku kalo kamu ke Pacitan..

Lokasi destinasi wisata di Pacitan seperti belasan pantai dan goa-goa tersebar menjauhi pusat kota, sedangkan penginapan/hotel yang terjangkau oleh situs booking hotel menurut pengalamanku 4 tahun terakhir hanya ada di pusat kota. 

tips umum:
Bagi traveler yang gak mau rugi menikmati pantai-pantai eksotis disana bisa bawa tenda sendiri, bermalam di tenda setelah menjelajah 3-4 pantai. Waktu 4 hari sudah cukup puas dan siap-siap kerokan sepulangnya dari Pacitan, karena angin yang berhembus ketika malam terlalu sepoy-sepoy kawan..

Transportasi umum enggak seperti kota-kota wisata lainnya yang dihiasi dengan landasan pesawat atau jalur rel kereta api, yang tersedia disana cuma terminal.

tips umum:
Berangkat aja pakai kendaraan pribadi, bisa mobil atau motor. Bisa juga charter Short-Elf buat peserta yang ikut agak banyak. Aku gak menyarankan pakai bus besar atau Long-Elf loh..karena kebanyakan lokasi wisata pantai melewati tikungan-tikungan serta haluan yang sulit dilewati kendaraan besar. Jadi megatron-megatron gitu gak usah dibawa.

Menghindari ke-heboh-an musim liburan kita pakai Jalur Lintas Selatan (JLS) yang pas kita cek di GoogleMap berjarak 275km dari Surabaya dengan waktu tempuh 7 jam. Jalur ini sudah bagus bin mulus dan jalannya berkelok-kelok, enak banget bagi yang suka motoran jarak jauh. Tapi harap hati-hati jika berkendara malam hari,lampu jalannya enggak ada bos..Tapi bisa jadi ajang narsis dan bikin gak cepet sampai Pacitan kalo ente lewat JLS di waktu pagi atau siang hari. Memasuki kawasan Trenggalek kita sudah disapa oleh pantai-pantai yang masih sepi dan bersih tentunya (ojok dikotori cuk..). Pemandangan pantai akan terus ada sampai kita memutar roda kendaraan sampai ke perbatasan Pacitan. Diluar dugaan karena sepinya pengendara yang melewati JLS kita cuma menghabiskan waktu enggak sampe 7 jam untuk sampai Pacitan.

Masuk Pacitan kita langsung menuju alun-alun kota, mencari pengganjal perut yang sudah 3 jam yang lalu mbleyer minta jatah. Sebenarnya banyak pilihan makanan di kota ini yang murah, tapi mungkin kita aja yang kepagian jadi cuma beberapa depot aja yang sudah buka. Dan dipilihlah makanan legendaris..pecel.

tips umum:
Jika melewati JLS disiang hari jangan lupa mampir di Pantai Konang, semacam wisata pantai biasa tapi sajian hasil lautnya wenak bos..dengan harga murah tentunya. (ilustrasinya Rp20.000/orang bisa kenyang banget, lebih dari cukup). Jangan kepagian juga lewat sini, warungnya belum ada yang buka!. Kalau ente kepagian sampai Pacitan jangan risau gak dapat sarapan, langsung aja menuju alun-alun kota depan Hotel Pacitan. Di alun-alun situ pengalamanku memang warungnya semacam gak pernah tutup pas liburan. Mau malem-malem juga ada yang masih buka, entah itu cuma jual gorengan atau kopi pahit. Kalau niat nongkrong sampe pagi juga ibu-ibu penjaga warungnya bakal setia menemani tanpa ada sianida diantara kita.

Sedikit panik dan cemas karena baru kali ini traveling dengan keluarga tapi enggak ada persiapan booking penginapan. Dengan begitu kita bikin 2 opsi:
  1. Kita kunjungi satu persatu objek wisata pantai menuju ke barat, berharap keberuntungan berpihak dan kita mendapatkan kamar kosong di salah satu objek pantai. Berdasarkan pengalaman, objek pantai yang sudah terdapat fasilitas penginapan hanya ada di Teleng Ria, Pantai Watukarung dan Pantai Klayar.
  2. Jika sampai ujung Pacitan nggak dapat penginapan maka kita akan langsung menuju Yogyakarta dan (sekali lagi) mencoba peruntungan mencari penginapan di kota bakpia.
Hotel-hotel di pusat kota Pacitan pagi itu terlihat sangat sepi tapi benar saja pas kita tanya semua kamar sudah full-booked/penuh. Enggak heran, wisatawan cuma bermalam aja disitu besoknya sudah nyebar sendiri-sendiri ke destinasi wisata keluar dari pusat kota.

Perjalanan menuju pantai-pantai dimulai. Langsung perjalanan dinavigasikan GPS menuju Pantai Klayar sehingga dengan berat hati harus melewati dua pantai lainya yakni Pantai Srau dan Pantai Watukarung, dengan harapan di Pantai Klayar masih ada penginapan yang kosong. 

Keputusanku untuk tidak mengunjungi dulu dua pantai tersebut adalah di Pantai Srau belum ada penginapan, yang ada hanya camping ground. Sedangkan di Pantai Watukarung terdapat penginapan tapi pastinya kantong kami tidak masuk kualifikasi untuk bermalah di pantai yang mayoritas dihuni para ekpatriat dan sebagian kepemilikan dimiliki oleh orang asing serta beberapa artis ibukota. Jika ente pernah ke Gili Trawangan di gugusan Pulau Lombok maka ente akan merasakan hal yang sama di Pantai Watukarung..ya..banyak bule bertebaran. Selain itu Pantai Watukarung juga memiliki ombak yang lumayan menantang bagi para peselancar, jadi bisa dibayangkan kombinasi jujugan bule dan artis ditambah spot surfing bikin penginapan di kawasan Pantai Watukarung itu MAHAL ndan!

Gili Trawangan, Lombok

Sekitar 1 jam perjalanan kita akhirnya tiba di Pantai Klayar. Jalanan sempit, berkelok dan naik-turun bikin setengah mual.  Turunan yang curam adalah ujung jalan aspal yang menandakan kita sudah masuk kawasan Klayar. Angin dan pemandangan gadis pantai jadi penawar rasa mual yang tertahan 1 jam lamanya didalam mobil. Bukan itu dan bukan pemandangan, misi utama saat ini adalah mencari penginapan yang masih tersisa.

Humanscape Pantai Klayar
Berbekal kemampuan sok kenal bin sok dekat dengan salah satu pemilik penginapan yang juga owner ponten terbesar di Klayar, kami pun mendapatkan satu kamar kosong yang lumayan nyaman. Sebuah penginapan semacam bungalow, berinterior sederhana namun modern. Didalamnya ada satu kasur king size, layar televisi, almari dan kamar mandi dalam tentunya. Tidak terdapat AC di dalamnya, hanya sebuah kipas angin berukuran jumbo padahal dicuaca sepanas ini keberadaan AC sudah menjadi keharusan di setiap penginapan tepi pantai.

16.00 - Menuju senja, sinar matahari tak lagi menunjukkan keganasannya. Berganti dengan sorotan bias jingga yang menyapu tubuh gadis-gadis pendatang, membentuk siluet tubuh mereka yang basah akan air laut. Pengunjung berangsur kembali ke penginapan, membersihkan diri dan bersiap menghabiskan malam dengan irama deburan pantai.

Mayangkara Homestay


Pertanyaanku terjawab sudah, kenapa tidak semua penginapan memasang AC disetiap biliknya. Setelah kabel oloran yang kubawa kutancapkan untuk sekedar menyebarkan daya ke gadget kesayangan yang sadari tadi sudah kehilangan nyawa. Yak..benar sekali, arus listrik putus mendadak menyebabkan sebagian penginapan lainnya juga ikut mati lampu. Listrik di daerah ini kurang stabil untuk ukuran tempat wisata. Alhasil beberapa jam kita menikmati penginapan dengan temaram lampu jalan yang untungnya enggak ikutan mati.

8 Februari 2016 - besoknya..

Kita lanjutkan eksplorasi ke pantai sebelah, tentunya sehabis sarapan dan ambil beberapa foto selfie dengan action cam. Navigasi kami lanjutkan menuju Pantai Buyutan dan Banyutibo. Masih sama dengan perjalanan kemarin, melewati jalanan sempit dan miskin haluan dalam 30 menitan kita sampai di tujuan pertama..

Pantai Buyutan seharusnya menjadi tempat sunyi yang menyenangkan untuk camping. Tapi memang saat itu musim liburan yaa..pasti sudah nggak sesunyi biasanya. Sebelum menjangkau spot Buyutan kami di sajikan pemandangan yang tidak biasa, yakni berupa tanah lapang yang sangat luas, kering seperti bekas area persawahan yang gagal panen. Terdapat gubuk-gubuk petani yang berjauhan antara satu dengan yang lain. Tidak bisa bebas mengambil gambar landscape lokasi ini karena arus mobil wisatawan yang enggak santai, macam hari pertama masuk kerja.

Satu lagi adalah Pantai Banyutibo. Sebuah kawasan wisata pantai tebing yang menyuguhkan ciri khas tersendiri bagi para pelancong. Berbeda dengan pantai-pantai lain di Pacitan yang ada pasir pantai dan birunya air laut sebagai komponen penghias, Banyutibo merupakan pertemuan antara air tawar dan air asin berupa air terjun setinggi kurang lebih 20 meter. Lokasi ini sering mencuri perhatian para pasangan muda yang ingin mengabadikan momen kebersamaannya baik untuk keperluan pre-wedding atau hanya sebagai penghias status di sosial media.

Dilokasi ini juga sama dengan Pantai Konang di Trenggalek, kuliner hasil laut menjadi salah satu penarik wisatawan. Kalau ente ada uang lebih dan kebetulan mau sekalian makan siang, bisa dicoba olahan lobster di sini. Harganya lumayan mahal untuk lobster ukuran sedang + nasi. Tahun lalu aku bertiga makan dengan porsi yang sama hampir habis 100rb. Ya mungkin mahal enggaknya relatif, kalau ente backpacker yang hemat duit pasti agak keberatan untuk makan disini.

tips umum:
Jangan lupa untuk selalu menanyakan harga makanan sebelum jadi order, karena terkadang depot atau warung tidak menyertakan harga di daftar menu makanan mereka atau malah tidak menyertakan menu makanan untuk referensi.

"Kita ke Jogja.."
Malioboro, Yogyakarta.


Dalam navigasi menuju kota gudeg Yogyakarta, kita mulai merasakan kepadatan kendaraan pribadi, baik yang menuju Jogja atau sebaliknya. Maklum, hari itu sudah penghujung long-weekend dimana sudah banyak sebagian wisatawan yang enggak mau telat kerja keesokan harinya. Melintasi jalur Wonosari yang sama saja berkeloknya seperti jalanan pantai di Pacitan dan padatnya kendaraan dalam kurun waktu 3 jam kita sudah sampai di Ring Road timur daerah istimewa Yogyakarta.

Karena di Banyutibo kita enggak makan sesampai di Jogja navigasi kita tujukan ke sebuah resto di Jalan Jend. Sudirman Yogyakarta namanya kalo enggak salah 1st Mister Burger Kofisyop. Disini menunya mulai dari khas kebarat-baratan sampai menu ayam goreng biasa juga ada. Rasa dan harganya masih ramah kok, bukannya promosi tapi memang selama di Jogja kita sudah 2 kali makan disini. Restonya ada di lantai 2 sedangkan di lantai bawah bangunan ini menjual berbagai menu pastry dan stan Mister Burger itu sendiri.

Sepertinya pemilik resto fans berat band legendaris Inggris The Beatles, terlihat dari beberapa barang penghias interior ruangan serba Beatles. Ada entah itu replika atau bukan, bass Hofner 500/1 punya Paul McCartney dan Gitar George Harrison yang mungkin itu merk GRETSCH atau GIBSON kurang tau juga, kesemuanya dikemas didalam kotak acrylic bening sehingga bisa pamer ke pengunjung lain.

Twin POP Hotel Jl,Gandegan Lor
Untuk bermalam di Jogja kita cukup beruntung gak pake acara keliling kota nyari penginapan yang kosong. Berbekal pengalaman hotel survival 2 tahun yang lalu di Jogja akhirnya kita menginap di POP Hotel Gandegan Lor dekat Malioboro dengan rate Rp450,000/night/room. Ruangan bergaya minimalis dengan kamar mandi semacam kapsul kaca susu didekat pintu masuk kamar twin bed. Bersih, wi-fi tersedia disetiap kamar dan sarapan yang menghargai tamu, cukup rekomended lah buat yang mau singgah di Jogja. Dan mungkin kalau pas enggak masa long-weekend gini pasti juga bakal lebih murah. Tersedia coffeshop di teras depan hotel, jadi bagi yang insomnia atau merasa liburan sayang kalo dibawa tidur dikamar, mungkin cangkruk di coffeshop sampe pagi bisa jadi solusi.

Di Jogja enggak kemana-kemana, cuma jalan di sekitar kawasan hotel dan Malioboro. Bagiku Jogja ini punya power untuk membangkitkan memori masa lalu, lain halnya dengan Bali dan Lombok serta kota wisata lainnya. Kota ini seperti menangkap sejuta gigabyte emosi yang kita tinggalkan dan menumpahkannya kembali ketika kita datang lagi. Baper.


tips umum:Harga tiket masuk memang enggak saya sertakan disini, bisa langsung ente klik PacitanTrip.com dan semoga tetap udpate. 


- ricinusCom


Subscribe to: Comments ( Atom )

Pages

  • Home
  • Contact me

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Cangkruk di De'PANJI Surabaya
    Disetiap kota khususnya kota besar seperti Surabaya pasti punya tempat jujukan untuk ngumpul atau sekedar having fun menikmati waktu lu...
  • Surabaya - Pacitan - Yogyakarta (NapakTilas Project)
    Dini hari waktu yang kami pilih untuk meninggalkan Surabaya menuju Pacitan. Destinasi wisata yang lagi heboh akhir-akhir ini. Tapi ka...

ricinuscom

Blog Archive

  • February (2)
ricinusCom. Powered by Blogger.

Text Widget

Latest Posts

  • Cangkruk di De'PANJI Surabaya
    Disetiap kota khususnya kota besar seperti Surabaya pasti punya tempat jujukan untuk ngumpul atau sekedar having fun menikmati waktu lu...
  • Surabaya - Pacitan - Yogyakarta (NapakTilas Project)
    Dini hari waktu yang kami pilih untuk meninggalkan Surabaya menuju Pacitan. Destinasi wisata yang lagi heboh akhir-akhir ini. Tapi ka...

Blogroll

About

Copyright 2014 RicinusCom.
Designed by OddThemes